Jika Anda pernah tinggal di Jakarta atau setidaknya pernah merasakan hiruk-pikuk jalanan ibu kota di era 80-an hingga 2000-an, besar kemungkinan Anda pernah berpapasan dengan sang raja jalanan: Bus Mayasari. Armada ini bukan sekadar alat transportasi, tapi bagian dari cerita hidup banyak orang.
Coba bayangkan: pagi yang sibuk, antrean panjang di halte, dan akhirnya muncul bus Mayasari dengan warna khasnya, seperti penyelamat di tengah kemacetan. Bagi para pekerja, pelajar, hingga keluarga yang ingin bepergian ke luar kota, Mayasari adalah jembatan menuju tujuan mereka. Tak peduli panas, hujan, atau jalanan berliku, bus ini setia mengantar penumpangnya.
Di era ketika motor belum beranak-pinak di jalanan dan mobil pribadi masih jadi barang mewah, Mayasari adalah pilihan utama. Bus ini menghubungkan berbagai sudut kota dan luar kota dengan rute yang menjalar seperti urat nadi, memastikan kehidupan tetap berjalan lancar.
Namun, seiring waktu, dunia transportasi mulai berubah. Hadirnya KRL Commuter Line, bus TransJakarta, hingga moda transportasi berbasis aplikasi membuat persaingan semakin ketat. Bus Mayasari tak lagi sepopuler dulu, tapi bagi mereka yang pernah bergantung pada layanannya, nama ini tetap melekat sebagai bagian dari kenangan perjalanan sehari-hari.
Awal Mula Mayasari: Dari Dua Bus hingga Ribuan Armada
Sejarah Mayasari dimulai dari satu nama: Engkud Mahpud. Pada tahun 1964, ia mendirikan sebuah perusahaan bernama PT Bakti, yang saat itu hanya memiliki dua unit bus. Tak ada yang menyangka, dari dua bus sederhana ini, lahir salah satu kerajaan transportasi terbesar di Indonesia.
Nama Mayasari sendiri konon diambil dari nama sang istri tercinta, sementara Bakti melambangkan dedikasi perusahaan untuk melayani masyarakat. Awalnya, Engkud Mahpud hanya mengoperasikan beberapa bus di rute pendek Jawa Barat, seperti Tasikmalaya-Cirebon dan Tasikmalaya-Bandung. Tapi seperti kata orang, kesempatan datang bagi mereka yang jeli melihat peluang.
Di era Gubernur Ali Sadikin, Jakarta sedang bersolek, membangun infrastruktur dan memperbaiki layanan transportasi. Engkud Mahpud menangkap sinyal ini dan membawa bisnisnya ke ibu kota. Keputusan ini terbukti jitu. Pada tahun 1986, PT Bakti resmi berganti nama menjadi PT Mayasari, dan sejak itu, bus-busnya mulai mendominasi jalanan.
Kini, Mayasari Group bukan hanya soal bus. Perusahaan ini telah menjelma menjadi raksasa bisnis yang merambah berbagai sektor, dari properti hingga perhotelan. Anak-anak Engkud Mahpud kini meneruskan tongkat estafet, memastikan nama Mayasari tetap berjaya.
Kerajaan Bisnis Mayasari Group: Dari Transportasi hingga Properti
Berawal dari dua bus, kini Mayasari Group memiliki sekitar 3.000 unit armada, dengan nilai per unit yang mencapai Rp1 miliar. Namun, transportasi hanyalah satu bagian dari puzzle besar bisnis ini. Berikut adalah sektor-sektor yang kini dinaungi oleh Mayasari Group:
1. Transportasi
Masih menjadi jantung utama bisnis ini, Mayasari Group mengoperasikan berbagai layanan bus kota, antarkota, dan pariwisata melalui anak perusahaannya:
- PO Mayasari Bakti
- PO Primajasa Perdanaraya Utama
- PO Maya Gaputa Intan
- PO Cahaya Bakti Utama
- PO Doa Ibu
- PO Karunia Bakti
- PO Redwhite Star
- PO City Trans Utama
- CitiMiles
2. Properti
Tidak puas hanya menguasai jalanan, Mayasari juga merambah ke dunia properti dengan mengembangkan perumahan, apartemen, dan kawasan komersial.
3. Manufaktur
Mayasari Group juga memiliki lini manufaktur yang memproduksi berbagai komponen transportasi dan industri lainnya.
4. Perhotelan
Tak hanya membangun rumah, Mayasari juga mengelola hotel dan resor di berbagai kota di Indonesia, memperluas bisnisnya ke sektor hospitality.
Mayasari: Dari Jalanan ke Masa Depan
Dulu, Mayasari adalah raja jalanan, mendominasi transportasi darat di Jakarta dan sekitarnya. Kini, meski persaingan semakin ketat dan pilihan transportasi semakin beragam, Mayasari tetap bertahan, berkembang, dan terus beradaptasi.
Seperti sebuah perjalanan panjang, Mayasari mungkin sudah melewati banyak tikungan tajam, tanjakan curam, dan persimpangan penuh pilihan. Namun, satu hal yang pasti: nama Mayasari tidak akan pernah pudar dari ingatan mereka yang pernah menjadikannya bagian dari perjalanan hidup.
Dari dua bus sederhana hingga kerajaan bisnis raksasa, kisah Mayasari adalah bukti bahwa dengan visi, ketekunan, dan keberanian mengambil peluang, segalanya mungkin terjadi.
Dan bagi Anda yang pernah duduk di bangku keras bus Mayasari, menikmati angin jalanan dari jendela yang terbuka, atau berdesakan di jam sibuk, satu hal pasti: kenangan itu akan selalu melekat, seperti roda yang terus berputar di jalanan Jakarta.